Teman Yang Sejati, Istri yang Solehah!!!
Sore itu, cuaca di desa Suka Miskin agak sedikit mendung. Di jalan setapak tampak seorang laki-laki mengenakan peci hitam dan baju koko dengan langkah gontai menuju sebuah rumah. Lelaki itu gontai karena hari ini ia tidak membawa uang sepeserpun untuk keluarganya. Tadi memang ia mendapatkan uang hasil jerih payahnya sebagai guru. Tetapi kini uang itu kini sudah tidak ada lagi ditangannya. Padahal, ia harus membayar sewa rumah yang sudah jatuh tempo, uang bayaran anaknya, mengirim uang untuk ibu mertuanya, keperluan sehari-hari, dan ia ingin membeli mukena baru untuk istri tercintanya, karena mukena yang lama sudah usang. Ia bingung juga pada awalnya untuk pulang, karena tidak tahu harus bilang apa. Tetapi kemudian, ia yakin bahwa Allah pasti akan memberikan mereka jalan.
Rumah yang dituju lelaki itu adalah sebuah rumah kecil yang terletak dipersimpangan jalan desa itu. Rumah itu walaupun kecil, namun terasa sedap dipandang karena keasrian dan kebersihannya. Tidak tampak sampah berserakan di rumah itu. Pastilah rumah itu di rawat oleh seseorang yang mencintai kebersihan.
Lelaki itu akhirnya tiba, kemudian ia mengetuk rumah itu dan berkata,” Assalamualaikum, ummi”. Dari rumah terdengar seorang perempuan dengan tutur lembut, menjawab, “ assalammualaikum, abi,” ia pun kemudian membuka pintu dan tersenyum kepada suaminya. Perempuan berjilbab itu kemudian menyium tangan suaminya dan menuntun suaminya dengan manja untuk masuk ke rumah. Ia menuntun suaminya hingga ke sebuah sofa yang sudah tidak jelas warnanya. “Abi cape ya? masih shaum kan? Aku ambil air minum dulu ya buat iftor, sebentar lagi maghrib ko, kaka istirahat aja dulu ya.” ujar perempuan itu, sekali lagi dengan tutur kata yang lembut. Laki-laki itu hanya mengangguk. Tak berapa lama kemudian, perempuan itu kembali dengan membawa secangkir teh dan tiga buah singkong rebus. Lelaki itu terkejut, padahal setahu dia, teh dan gula dari kemarin sudah habis. Ia kemudian bertanya pada istrinya,” sayang, dapat darimana semua ini,” Istrinya menjawab,” Alhamdullillah, tadi kita dapat rizki dari Allah, tadi bu Hasyim membeli singkong yang aku tanam,”. Alhamdullilah, dapat sepuluh ribu”. “oh begitu,” seru suaminya. “ o, ya sayang, Aisya mana?”, tanya laki-laki itu, “ Aisya tadi udah ke Langgar Ka, biasa ngajar ngaji anak-anak”. Sebentar, lagi pulang ko”. Jawab istrinya.
“Kak, tadi gimana dapat uang?”, tanya perempuan itu. Laki-laki itu terdiam sesaat, ia kemudian menjawab dengan perlahan-lahan, “ maaf De, tadi aku dapet uang seratus ribu, tapi tadi Pak Ali penjaga sekolah ingin minjam uang karena anaknya sakit, ya udah aku kasih aja lima puluh ribu”. Laki-laki itu kemudian melanjutkan, “ nah kan sisanya lima puluh ribu, yang dua puluh ribu aku beliin mie, teh, dan gula untuk keperluan sehari-hari kita. Pas aku lewat kantor karang taruna aku lihat anak-anak muda itu lagi bikin spanduk dan gapura buat 17-an. Mereka menyapa aku.. karena aku pembina mereka aku kemudian memberikan sembako itu kepada mereka sayang.. ngga apa-apa kan sayang?. “Ngga apa-apa ko, Ka, berarti masih ada tiga puluh ribu kan” seru perempuan itu.
“Sekali lagi maaf sayang, tadi begitu lewat ternyata ada seorang pengemis yang lagi kelaparan kemudian aku kasih dia sepuluh ribu buat beli makanan, dan sisanya aku beliin makanan kran buat musholla yang rusak. Kasihan orang-orang kalo mo sholat pasti bajunya basah kuyup karena krannya bocor. Jadi sekarang uang itu habis, Abi hanya membawa tiga buah mie buat makan malam kita. Maaf ya Umi, Insya Allah besok abi akan nyari uang lagi abis ngajar di sekolah. Kata laki-laki itu. Ia takut istrinya akan marah. Ia merasa istrinya sudah cukup bersabar sekian lama dalam kemiskinan. Hal ini terjadi karena laki-laki itu tetap konsisten dalam jalan idealisme yang diyakininya benar. Dulu ketika selesai kuliah di universitas ternama di negeri ini ia ditawari pekerjaan dengan gaji yang besar dan ada juga tawaran menjadi aktivis sebuah parpol, tetapi ia tidak mau karena ia tidak mau korupsi, menindas rakyat kecil, dan bersikap munafik. Tetapi sekarang ia dilemma. Ada pikiran jika keluarganya sudah tidak menerima nasib seperti ini lagi, ia akan banting stir untuk menerima ajakan teman-temannya yang hidup mewah baik sebagai pegawai negeri, politisi maupun agen-agen kapitalis. Ia bingung dan melamun tentang kondisi keluarganya.
Istrinya bernama Sara, seorang mantan aktivis dakwah kampus. Ia menikahi istrinya karena mempunyai visi yang sama untuk saling mencintai karena Allah bukan karena harta. Sara adalah tipe Seorang istri yang setia menemaninya selama 18 tahun berjuang di jalan dakwah. Dia selalu ikhlas untuk mengurusi suaminya, anaknya, dan berbakti kepada orang tuanya. Tidak pernah sekalipun ia mengeluh. Padahal teman-teman pengajiannya semua sudah memiliki mobil. Apalagi, ia harus selalu puasa senin-kamis jika tidak ada makanan dan selalu mendahulukan suami dan putri semata wayangnya jika ada makanan. Setiap malam jika sedang tidak haid, ia selalu tahajud, sementara sholat wajib, Duha, dan tilawah telah menjadi bagian dirinya. Tampaknya ia bahagia memiliki keluarga yang sakinah, warohmah, dan mawaddah walaupun, tanpa harta. “Ya Allah, aku merasa berdosa tidak bisa membahagiakan dirinya” gumam laki-laki itu.
“Oh begitu, ngga apa-apa ko Ka, Alhamdullilah kita masih dapat rezeki tiga mie. Kita harus mensyukurinya loh pak…berarti kan Allah masih sayang ama kita, buktinya kita masih diberi rizki, Insya Allah, besok lebih baik, kita harus ikhlas ka.. ini kan jalan yang kita pilih berdua…. semoga Allah selalu meridoi jalan kita, amin’’ kata perempuan itu dengan tersenyum. “ Tapi bagaimana dengan uang sekolahnya Aisya?”, tanyaku, “ ya sudah nanti malam kita cari jalan keluarnya, lagian Kak, aku masih punya cincin kawin ko, nanti kita gadaikan aja dulu ya, kalo punya uang kita tebus lagi ya,” kata perempuan itu dengan bijak. “Jangan sayang, aku ngga mau tanda cinta kita berdua digadaikan, biar besok aku cari uang setelah selesai ngajar”. Sanggah laki-laki itu.
Sementara itu, diluar terdengar suara remaja putri dengan lembut mengucapkan salam. Kedua orang itu menjawab. Sang istri kemudian membuka pintu.. tampaklah putri semata wayang mereka berdiri didepan pintu dengan memakai baju gamis dan jilbab berwarna biru muda serta Al-Quran di tangannya. Ia kemudian mencium tangan ibu dan bapaknya. Bertepatan dengan itu suara azan maghrib menggema dan mereka sekeluarga lalu berbuka puasa bersama. Sungguh nikmatnya sebuah keluarga yang bahagia………………
Pondok Gede, 5 September 2006
Untuk calon istriku tersayang
Siapapun dia, dimanapun dia, kapanpun dia, dan bagaimanapun dia
Sesungguhnya kebahagiaan itu bukanlah di ukur dari harta atau tahta
Dari uang, mobil, rumah, gelar S dua, lulusan UI, hand phone, lap top, atau kemasyuran
Tetapi dari hati nurani
Karena mencintai karena Allah itu lebih baik daripada dunia dan seisinya..
Maafkan jika nanti kita bersanding, aku tidak bisa membahagiakanmu dengan harta yang berlimpah
Karena bagiku jalan dakwah adalah jalan hidup
Idealisme adalah idealisme hidup
Kebaikan pada orang lain adalah kebaikan hidup
Cinta kepada sesama adalah cinta hidup
Siapapun engkau nanti..
Bukan rupa yang ku cari..
Bukan mertua kaya yang ku ingin..
Bukan lulusan FK yang ku mau
Tetapi hati nurani…
Yang pesonanya memancar hingga ke surga..
Siapaun engkau nanti…
Mengertilah akan jalan hidupku….
Sebuah jalan yang tidak berujung..
Bahkan aku sendiri tidak tahu ujungnya..
Yang ku tahu adalah nama jalannya..
Yaitu jalan kebenaran dan keadilan
Dengan sebuah persimpangan yaitu kejujuran
Dengan kendaraan iman dan takwa….
Dengan bahan bakar jihad
Dan stiker Hidup Mulia atau Mati syahid
Siapapun engkau nanti…
Yang kupunya hanyalah cinta….
Kan kuhiasi dunia kita dengan warna-warni cinta islami
Dengan merdunya tilawah Quran
Dengan basahnya wudu
Dengan nikmatnya sholat
Dengan hausnya puasa
Sayangku, siapapun engkau nanti
engkaulah teman sejatiku di dunia..
Dalam mencari rido Allah…
Semoga nanti kita dipertemukan baik di dunia maupun akherat…